Acara
Sharing Pengalaman: Beasiswa Monbukagakusho (MEXT) 2016-2017
May 8, 2017
0

Awal Mula

Waktu itu tanggal 9 april 2016 dan saya baru memulai hidup baru di sebuah kota baru yang udaranya lebih dingin dari Jakarta ketika teman saya memberitahukan saya mengenai aplikasi beasiswa MEXT.

Bagi kawan-kawan yang belum tahu, MEXT atau Monbukagakusho adalah beasiswa yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Jepang diseluruh mancanegara. Untuk selengkapnya dapat dilihat pada website kedutaan jepang Indonesia.

Pada waktu itu, saya sebenarnya agak sedikit enggan untuk mendaftar beasiswa tersebut dikarenakan tenggat waktu pendaftaran tinggal 2 minggu dan sebagai peminat beasiswa Research Student Magister, saya harus membuat sebuah proposal penelitian serta mencari sensei yang saya inginkan untuk menjadi pembimbing saya. Akan tetapi karena dorongan dan semangat dari kerabat dekat, serta keinginan saya yang tinggi untuk menuntut ilmu di luar negeri,  saya memutuskan untuk tetap mendaftar dan bermodalkan nekat dan tekad, saya pun mulai menyusun proposal penelitian dan mencari sensei.

Untuk mencari sensei, dapat dilihat disini atau website-website universitas di Jepang dan melihat Universitas apa saja yang menyediakan program dengan bahasa inggris, dikarenakan saya tidak bisa berbahasa Jepang. Ada beberapa website yang menyediakan search engine yang cukup baik dalam pencarian jurusan Jepang. Saya sudah lupa nama website tersebut, tetapi bisa anda google dan website tersebut akan muncul beserta website lainnya. Sangatlah penting bagi para calon pelamar MEXT untuk  benar-benar melihat ketertarikan dari sensei yang anda minati dan membuat sebuah Research yang mendekati interest sang sensei, karena hal itu bisa menjadi penentu penting dalam penerimaan anda sebagai murid bimbingan sensei tersebut.

Pada hari H deadline pengumpulan berkas, saya baru bisa meluncur ke Jakarta dan menyerahkan berkas tersebut ke Kedutaan Jepang Jakarta. Sebenarnya berkas-berkas tersebut bisa diserahkan lewat pos, tetapi saya lebih memilih untuk menyerahkannya sendiri karena saya sedikit paranoid dan lebih merasa nyaman bila saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa berkas-berkas tersebut sudah diterima oleh pihak kedutaan. Masa penantian yang panjang pun dimulai.

 

Lulus Seleksi Administrasi

Saya menunggu kurang lebih sekitar satu bulan sampai pengumuman seleksi administrasi. Peserta yang lolos seleksi diumumkan tidak dengan namanya tapi dengan nomor ujian yang dibagikan pada saat mendaftarkan beasiswa MEXT pertama kali. Karena itulah saya sampai berkali-kali mengecek nomor apakah benar itu nomor saya, karena saya takut terlalu pede duluan.

Setelah yakin bahwa itu memang benar nomor saya, diberitahukan kepada peserta yang lolos seleksi bahwa kita harus mengikuti beberapa test wajib berupa :

  • Tes bahasa inggris
  • Tes bahasa jepang
  • Tes interview

Bagi para peserta yang khawatir dengan tes bahasa jepang, tenang saja karena tes bahasa jepang itu tidak wajib diisi bagi orang-orang yang tidak bisa berbahasa Jepang. Saya sendiri pun ketika mengikuti tes bahasa mengosongkan lembar jawaban tes bahasa jepang karena saya memang tidak bisa. Yang penting adalah mengisi tes bahasa inggris dan juga berhasil dalam tes interview.

Tanggal persisnya saya sendiri sudah lupa karena itu sudah hampir satu tahun yang lalu saya jalankan, tetapi kedua tes tersebut pada batch saya, dilakukan pada 2 hari yang berbeda dengan jarak yang cukup jauh. Tes bahasa dilakukan pada saat bulan Ramadhan dan tes interiview dilakukan pada saat setelah Lebaran.

Pada saat tes tertulis, peserta sama sekali dilarang untuk menyalakan HP dan meletakkan benda apapun kecuali alat tulis yang akan digunakan diatas meja. Bila ada HP yang berbunyi pada saat tes dimulai, tes akan dihentikan dan semua lembar jawaban akan diambil tanpa terkecuali. Maka dari itu para peserta yang berniat mengikuti tes bahasa mohon konsiderasinya sejenak kepada para peserta lain yang sudah jauh-jauh datang dari berbagai daerah, dan mematikan HPnya sampai anda keluar dari ruangan.

Untuk tes interview, dengan banyaknya jumlah peserta, akan dibagi-bagi hari interview dan jamnya. Dalam satu sesi, terdapat kurang lebih 6 orang yang akan diinterview pada timeline yang sama. Peserta akan dibawa ke sebuah ruang tunggu dan satu persatu akan dipanggil untuk melaksanakan interview di ruang terpisah. Dalam ruangan interview terdapat 4 orang yang akan melakukan interview dengan anda. 2 orang Jepang dari kedutaan dan 2 orang lagi adalah pakar bidang dari Indonesia.

Saat interview, biasanya akan ditanyakan pertanyaan standar semacam ‘mengapa anda memilih topik riset ini’, ‘apa manfaat bagi negara bila anda melakukan riset ini’, dll. Tentunya jawaban masing-masing peserta berbeda-beda tergantung dari topic riset yang dipilih masing-masing. Bila anda bertanya saya, jujur saya sudah tidak ingat lagi apa yang saya katakan pada saat di dalam ruangan itu. Saya hanya ingat berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan semampu saya dan tidak melenceng dari riset yang saya kehendaki.

Setelah interview, penantian yang cukup lama pun kembali dijalani. Pada masa ini, memang sebaiknya anda sudah mempunyai jawaban pasti dari para Professor anda apakah mereka bersedia untuk menjadi pembimbing anda pada saat riset. Karena, bila anda lulus di tahapan ini, akan sangat penting sekali untuk meneruskan ke tahapan selanjutnya.

 

Lulus Tahapan Pertama

Hari pengumuman tiba, dan Alhamdulillah saya masih diberi jalan untuk melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Sebelumnya saya sudah sampaikan bahwa jawaban dari sensei mengenai persetujuan mereka menjadi pembimbing anda sangatlah penting. Karena pada tahapan ini, semua berkas yang awalnya dikumpulkan untuk seleksi administrasi kembali dikumpulkan lengkap dan asli beserta juga LOA  (Letter of Acceptance) asli dari Professor anda untuk dikumpulkan bersamaan dengan dokumen lainnya. Maksimal pilihan yang diberikan adalah 3 pilihan, dan biasanya pilihan pertama yang dicantumkan akan menjadi Universitas pilihan anda. Itulah yang terjadi pada saya kemarin.

Setelah sensei saya resmi setuju menjadi pembimbing saya di Jepang, dengan segera ia mengirimkan LOA melalui Japan Post kilat yang kecepatannya sangat dijamin. Saya dijanjikan surat itu akan datang dalam waktu satu minggu. Kenyataannya, surat itu datang dalam waktu 3 hari saja. Ketika surat itu sampai ke rumah saya, saya tidak bisa percaya bahwa saya benar-benar memegang dan memiliki sebuah LOA. Rasanya seperti mimpi, dan kertas itu saya perlakukan seakan lebih berharga daripada emas. Sampai saat ini pun, amplop Japan Post itu masih ada di rumah saya, dan saya simpan dengan baik walaupun tidak ada gunanya.

Semua berkas yang saya serahkan kembali bukanlah berkas yang dulu saya kumpulkan, tapi berkas baru dan semua berkas yang diminta pun berupa berkas asli. Karena surat rekomendasi dosen yang asli sudah saya serahkan pada saat seleksi administrasi, maka saya harus minta surat rekomendasi dosen lagi kepada dosen saya. Untungnya dosen saya yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Jurusan sangat mendukung usaha saya untuk mendapatkan beasiswa ini, maka hal itu tidak menjadi masalah.

Setelah lengkap, semua berkas-berkas segera saya kumpulkan ke kedutaan besar Jepang di Jakarta secara pribadi.

 

Lulus Tahapan Kedua dan Selanjutnya

Sebenarnya tidak ada jaminan bahwa anda sudah pasti akan lulus ke tahapan kedua. Semua penyeleksian dilakukan oleh pihak MEXT di Jepang dan pihak kedutaan merupakan perantara bagi MEXT Jepang dan calon penerima beasiswa. Maka bila ditanyakan persentase kelulusan kepada petugas kedutaan, mereka tidak akan bisa memberikan jawaban yang pasti. Memang pada tahap ini, yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dan pasrah saja.

Bisa dibilang tahap-tahap ini rasanya seperti ‘digantungin’ oleh MEXT, karena masa penantian yang amat sangat panjang. Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya sekitar bulan Oktober 2016, diumumkan pengumuman kelulusan tahap kedua. Alhamdulillah saya kembali menjadi salah satu peserta yang lulus pada tahapan ini.

Nah, dari sekian banyaknya blog yang menuliskan pengalaman mereka dalam menjalani tahapan seleksi MEXT, biasanya tulisan tersebut berhenti pada tahapan ini. Akan tetapi, bagi pengalaman saya, justru tahapan inilah merupakan tahapan yang paling memberikan frustasi dan ketegangan batin dan mental bagi saya.

Setelah diumumkannya seleksi kedua, setahu saya 100% peserta yang lulus tahapan pertama lolos maju ke tahapan kedua. Akan tetapi, ada sedikit info minim yang menohok hati dan membuat tegang tingkat tinggi. Pada lembar pengumuman, tertulis bila dari pihak Universitas tidak ada yang menerima saya sebagai mahasiswanya, maka beasiwanya akan dibatalkan.

Bagi saya, kata-kata tersebut cukup menohok. Apalagi bila saya gagal padahal sudah sampai tahap ini, rasa sakitnya pasti akan lebih menusuk dibanding bila saya gagal pada tahapan-tahapan sebelumnya. Tapi baiklah, semua saya jalani saja dulu, dan kalau memang ini yang terbaik bagi saya pasti akan diberikan jalannya oleh Yang Maha Kuasa. Saya dan kawan-kawan peserta lainnya pun menunggu dengan sabar pengumuman penempatan universitas yang entah kapan akan diumumkannya.

Setelah 3 bulan saya sebenarnya sudah hampir menyerah untuk menunggu pengumuman selanjutnya, karena sampai saat itu pun masih belum ada kepastian kapankah penempatan universitas akan diumumkan. Tetapi, Alhamdulillah pada penghujung tahun 2016, muncullah pengumuman yang sangat saya nanti-nanti. Hasilnya alhamdulillah saya ditempatkan di Kyushu University, Universitas pilihan pertama saya.

Selanjutnya saya hanya menunggu penyerahan Pledge, pengurusan visa, dan penerimaan tiket pesawat.  Akan tetapi, kata ‘hanya’ itu merupakan sebuah fata morgana. Karena kenyataannya, saya dan penerima beasiswa MEXT lainnya yang akan berangkat dengan saya kembali lagi seperti digantungkan oleh pihak MEXT mengenai keputusan keberangkatan kami. Walaupun kami sudah resmi menjadi penerima beasiswa MEXT, tetapi sebelum kami benar-benar mengetahui tanggal keberangkatan dan menerima tiket pesawat beserta visanya, hati saya masih merasa was-was. Masa penantian yang lama ini rasanya tak kian ada ujungnya.

Akhirnya setelah berbulan-bulan kami menanti, muncullah satu persatu berita baik. Dimulai dari jadwal keberangkatan kami yang dibagikan kepada kami semua melalui pesan dalam facebook group pada bulan Februari 2017. Kemudian disusul dengan pengumpulan Pledge pada awal maret yang bersamaan dengan pembagian formulir aplikasi visa.

Bagi yang belum mengetahui, Pledge adalah sebuah janji tertulis dan sah hukumnya yang dibuat oleh penerima beasiswa MEXT kepada MEXT. Isinya kurang lebih akan menjanjikan bahwa tidak akan melakukan tindak kriminal, menjalankan studinya sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan, etc.

Dalam pengurusan visa, sebagai penerima beasiswa MEXT, kami mendapatkan hak eksklusif untuk tidak mengantri membuat visa dengan para turis lainnya, melainkan kami mendapatkan jalur baris sendiri bersamaan dengan warga Jepang yang hendak mengurus visa dan lain lain. Hal itu sangatlah menguntungkan bagi kami, karena pada saat kami mengurus keperluan visa, pengurusan visa ke Jepang sedang membludak karena Jepang sedang memasuki musim semi, sehingga orang-orang Indonesia berbondong-bondong memasuki Jepang.

Akhirnya, setelah visa didapatkan, kami semua mendapatkan undangan dari kedutaan Jepang, baik di Jakarta maupun di kota lain, untuk menghadiri pelepasan beasiswa MEXT 2017. Pada hari pelepasan, itu bukan kali pertama saya bertemu dan bercakap dengan sesama penerima MEXT Research Student 2017. Kami sudah membuat group Whatsapp dari jauh hari pada saat diumumkan seleksi tahap kedua, dan beberapa diantara kami pun sudah pernah bertemu pada saat pengurusan Visa. Bahkan ada beberapa yang masih ingat satu sama lain ketika sedang menjalani tahap tes sebelum lulus seleksi pertama.  Maka bertemu kembali dengan kawan-kawan sesama perjuangan itu dalam rangka menyelenggarakan keberangkatan kami semua, rasanya sesuatu yang patut disyukuri.

Dengan percaya dirinya, kami semua berjanji untuk mengenakan baju batik, walaupun dari pihak kedutaan tidak mengharuskan adanya Dress Code. Akhirnya untuk pertama bagi segelintir orang dan mudah-mudahan bukan yang terakhir kalinya kami semua bertemu di Kedutaan Jepang di Jakarta.

Bertemu dengan mereka sebenarnya menimbulkan rasa gembira dan melankolis. Karena kita semua bertemu dengan keadaan dimana kita akan sulit sekali untuk bertemu kembali dengan satu sama lain. Hal yang sangat saya syukuri dari proses seleksi beasiswa ini adalah bertambahnya teman-teman baru dari berbagai jurusan dan daerah. Dimana kita saling memberi semangat, tawa, dan banyolan konyol demi menghibur satu sama lain dari ketegangan penantian kepastian keberangkatan. Sampai sekarang group Whatsapp kami masih aktif, walaupun tentu tidak seaktif dulu.

Keberangkatan

Akhirnya hari yang dinanti-nanti tiba. Hari itu tanggal 2 April 2017, hari yang panas di Jakarta dengan cuaca mendung. Saya bangun pagi di rumah saya untuk yang terakhir kalinya setidaknya sampai beberapa tahun kedepan. Jujur, saya sendiri sampai akhirnya harus naik pesawat menuju ke Jepang, masih tidak terasa seperti akan pergi jauh dan tidak pulang lagi. Saya masih merasa seperti tidak ada hal yang janggal, dan masih merasa tenang seperti biasa. Ketika saya berpamitan dengan keluarga di airport pun masih belum merasakan kesedihan perpisahan. Hal itu baru terasa ketika detik-detik terakhir saya menginjakkan kaki di Jakarta dan saya menelepon orang tua untuk memberitahukan bahwa pesawat saya akan segera berangkat.

Akhirnya, sampailah kita di penghujung cerita saya yang panjang ini. Pada saat dituliskannya cerita ini, saya sudah satu bulan lebih tinggal di Kyushu. Tepatnya di kota Fukuoka, di Kyushu University. Saya masih mengikuti program Intensive Japanese Language Course sebelum saya melanjutkan studi saya di Departemen saya.

Saya sudah mulai sedikit banyak terbiasa dengan kehidupan di Jepang. Sangat berat tentunya memulai hidup baru sendirian di Negara yang asing dimana kita tidak mengerti bahasanya. Banyak sekali hal-hal yang membingungkan, tetapi juga banyak sekali orang-orang yang membantu saya. Saya berkenalan dengan kawan-kawan dari berbagai macam Negara, bertukar pikiran dan bertukar kebudayaan dengan mereka. Tidak hanya itu, sayapun juga merasakan secara langsung bagaimana orang Indonesia itu sangat mempunyai solidaritas yang tinggi dan akan selalu mau membantu satu sama lain bila ada yang sedang mengalami kesusahan. Saya tinggal di Jepang masih seumur jagung dan pastinya akan ada banyak sekali hal-hal yang akan saya alami. Baik hal yang berat maupun ringan, baik maupun buruk. Akan tetapi semuanya saya akan jalani semampu saya dengan tawakkal dan doa. Karena hidup ini merupakan perjuangan yang satu dan lainnya. Saya sudah memenangkan sebuah perjuangan untuk sampai di Jepang. Sekarang adalah waktu perjuangan saya di Jepang sebagai pelajar.

Bagi kawan-kawan  yang berminat untuk menjalani proses seleksi MEXT, saya ucapkan selamat berjuang! Mudah-mudahan tulisan saya ini bisa sedikit banyak membantu dalam menjalani proses seleksi beasiswa MEXT.

 

 

Penulis
Arisha Satari
Translate »