Sakura dan Metafora Kehidupan
April 13, 2015
0

Sakura dan Metafora Kehidupan

Sakura sakura
Noyama mo sato mo
Mi-watasu kagiri
Kasumi ka kumo ka
Asahi ni niou
Sakura sakura
Hana zakari
Cherry blossoms, cherry blossoms,

In fields and villages
As far as you can see
Is it a mist, or clouds?
Fragrant in the morning sun
Cherry blossoms, cherry blossoms,
Flowers in full bloom.

Sepenggal lirik di atas adalah salah satu lagu rakyat popular sejak era Meiji yang sering dinyanyikan di acara-acara internasional sebagai lagu representasi negara Jepang. Ya, sakura. Tak mudah menyebut nama Jepang tanpa terbayang keindahan bunga sakura. Bagi bangsa Jepang, sakura mempunyai makna yang mendalam mengenai kehidupan, kematian, kebahagiaan, kesedihan dan hubungan antar manusia.
Keindahannya yang hanya bisa dinikmati setahun sekali pastinya selalu dinanti oleh warga Jepang asli maupun para perantau dari berbagai negeri. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan memandangi rona lembut sakura yang masih bertengger anggun di tangkainya, Persatuan Pelajar Indonesia Fukuoka, Komunitas Photographer Indonesia di Fukuoka (KPIF) beserta Muslim dan Muslimah Fukuoka (Musfuk) mengadakan hanami (花見, melihat bunga) pada tanggal 4 April kemarin di Ohori Koen. Segenap warga Indonesia di Fukuoka berbondong datang bersama keceriaan khas akhir pekan di musim semi.

Acara hanami dimulai pukul 10.00 waktu Fukuoka. Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua PPI Fukuoka, Amry Dasar, yang kemudian dilanjutkan dengan pengenalan para pengurus PPI Fukuoka. Sesudah itu, pasukan Musfuk mengisi acara dengan menghadirkan pembicara Bapak Tibyani Hambali dari Kitakyushu University. Tema yang diusung adalah serba-serbi kehidupan muslim di Jepang pada umumnya dan prosedur untuk pergi haji di Jepang pada khususnya. Ketika waktu dhuhur tiba, segera para peserta mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat dhuhur berjamaah dengan imam Bapak M. Deni Akbar.

Hanami tak akan lengkap rasanya tanpa barbecue. Selepas sholat berjamaah, segera panggangan ditata, arang disulut, dan daging lezat berbumbu disusun di atas bara. Perlahan, desis daging panggang mulai terdengar dan bau sedapnya menguar di udara. Para warga berbaur menjadi satu untuk mengobrol santai sembari menikmati daging panggang. Tua, muda, pria wanita, warga lama maupun baru terlibat interaksi yang hangat. Tak bisa dipungkiri acara hanami selalu berhasil membuat yang tak kenal menjadi kenal, yang jauh menjadi lebih dekat, dan yang awalnya malu-malu bisa mengurai tawa canda.

Semakin siang, awan gelap menggantung semakin tebal. Memang perakiraan cuaca menyebutkan kemungkinan besar akan hujan hari itu. Sudah sangat beruntung bisa memandangi cantiknya sakura sampai selesai tanpa setetespun air hujan membasahi. Sebelum mengakhiri rangkaian acara, seluruh warga melakukan foto bersama. Sesaat setelah ditutupnya acara hanami, rintik hujan mulai berjatuhan mengiringi langkah para warga meninggalkan Ohori Koen.

Bunga sakura bermekaran indah, namun tak berapa lama gugur ke tanah. Pun kehidupan kita. Sebagai pengingat, hidup hanya sementara, keindahan hanya sekejap mata. Bersamaan dengan tetesan lembut hujan dan hembusan angin musim semi yang meniup jatuh helaian sakura, semoga kita bisa menyikapi hidup dan segala manis getirnya dengan lebih bijaksana.

2015-04-13 Sakura dan Metarfora Kehidupan

2015-04-13 Sakura dan Metarfora Kehidupan

2015-04-13 Sakura dan Metarfora Kehidupan

2015-04-13 Sakura dan Metarfora Kehidupan

2015-04-13 Sakura dan Metarfora Kehidupan

2015-04-13 Sakura dan Metarfora Kehidupan
Fukuoka, 12 April 2015

Yuslita Syafia
GS Integrated Sciences for Global Society

Foto diambil oleh: Adha Sukma Aji

Translate »