Kenali Indonesia: Provinsi Aceh
December 24, 2016
0

Provinsi Aceh atau yang dikenal sebagai “Serambi Mekah” merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berada di ujung barat laut dari kepulauan Indonesia (warna merah). Hari jadi Provinsi Aceh adalah 7 Desember 1959, dengan lagu daerah “Bungong Jeumpa”. Kota terbesar merupakan Kota Loksumawhe. Provinsi Aceh memiliki banyak keanekaragaman budaya mulai dari alat musik tradisional, pakaian adat, rumah adat, kerajinan tradisional, hingga tari tradisional.

 

 

Alat musik tradisional Aceh cukup banyak dan terbagi menjadi tiga tipe sesuai cara memainkannya, tiup, gesek, dan pukul.

  • Arbab merupakan instrument tipe gesek yang terbuat dari tempurung kelapa, kulit kambing, kayu, dan dawai. Arbab terdiri dari dua bagian yaitu instrumen induk dan alat penggeseknya. Rapai merupakan instrumen jenis pukul (perkusi) yang berfungsi sebagai pengiring kesenian tradisional, bentuknya seperti rebana.
  • Rapai terbuat dari kayu, kulit nangka, lempengan logam, dan kulit binatang (utamanya kambing, sapi, serta terkadang himbe/sebangsa kera). Rapai terbagi menjadi 5 jenis yaitu rapai pasee, daboih, geurimpheng, pulot, dan anak/tingkah yang dibedakan dari segi besar dan suaranya.
  • Serune kalee merupakan seruling khas Aceh, umumnya dimainkan bersamaan dengan Rapai dan Geundrang yang telah dipopulerkan semenjak jayanya Kerajaan Aceh Darussalam hingga sekarang tetap mewarnai kebudayaan tradisional Aceh di sektor musik
  • Bangsi alas juga merupakan instrumen tipe tiup akan tetapi terbuat dari bambu dan dapat dijumpai di daerah Alas, Kabupaten Aceh Tenggara. Secara tradisional pembuatan bangsi dikaitkan dengan adanya orang meninggal dunia di desa tempat bangsi dibuat.
  • Geundrang merupakan unit instrumen dari perangkat musik serune kalee dan rapai yang dimaikan dengan cara dipukul dengan menggunakan tangan/kayu pemukul. Geundrang umumnya dijumpai di daerah Aceh Besar dan di pesisir Aceh seperti Pidie dan Aceh Utara.
  • Tambo juga merupakan insturmen tipe pukul yang terbuat dari batang iboh, kulit sapi, dan rotan sebagai alat peregang kulit. Tambo dahulunya berfungsi sebagai alat pemberitahu waktu shalat fardhu dan mengumpulkan masyarakat, akan tetapi saat ini sudah sangat jarang digunakan karena terdesak oleh teknologi mikrofon.
  • Taktok trieng juga merupakan instrumen tipe pukul yang terbuat dari bambu yang biasa dijumpai di Kabupaten Pidie. Taktok trieng biasa digunakan untuk meunasah (langgar-langgar) di balai-balai pertemuan dan juga digunakan di sawah untuk mengusir burung atau serangga lain yang mengancam padi yang diletakkan di tengah sawah dan dihubungkan dengan tali sampai ke gubuk .
  • Bereguh termasuk ke dalam alat musik tipe tiup yang terbuat dari tanduk kerbau. Fungsi utama dari bereguh hanya sebagai alat komunikasi terutama pada saat berada di hutan, akan tetapi penggunaan bereguh saat ini telah mulai punah.
  • Canang merupakan alat musik tipe pukul yang terbuat dari kuningan dan bentuknya menyerupai gong. Fungsi utamanya sebagai pengiring tarian-tarian tradisional serta hiburan bagi anak-anak gadis yang sedang berkumpul pada waktu senggang.
  • Celempong juga merupakan alat musik tipe pukul yang terdiri dari beberapa potongan kayu dan biasa digunakan sebagai iringan tari inai. Celempong disusun diantara kedua kaki pemainnya yang digunakan sebagai alas.

(detikaceh.com)

Pakaian adat Aceh bernama Ulee Balang dan memiliki tata warna serta corak sulaman benang emas yang khas. Pada masa lampau, pakaian ini dibagi menjadi beberapa tipe sesuai dengan status sosial seseorang yaitu untuk keluarga raja, cut-ulama, pejabat negara/tokoh masyarakat, dan rakyat jelata. Busana pengantin laki-laki bernama Peukayan Linto Baro sedangkan busana untuk pengantin perempuan bernama Peukayan Dara Baro (tradisikita.my.id)..

Rumah adat Aceh dikenal sebagai “Rumoh Aceh”, terdiri dari 3/5 kamar dengan kamar utama bernama rambat. Rumoh Aceh dengan tipe 3 kamar tersusun oleh tiang sebanyak 16 buah, sementara untuk 5 kamar tersusun oleh 24 buah tiang. Rumoh Aceh milik peninggalan raja-raja Pidie yang berada di jalan Peukan Pidie, Kabupaten Sigli, merupakan Rumoh Aceh terbesar dengan jumlah tiang mencapai 80 buah dengan ukuran masing-masing tiang mulai dari 20 hingga 35 centimeter. Pada umumnya tinggi pintu sekitar 120-150 centimeter sehingga membuat siapapun yang masuk harus sedikit merunduk. Makna dari merunduk ini adalah sebuah penghormatan kepada tuan rumah saat memasuki rumahnya (kebudayaanindonesia.net).

Kerajinan tradisional aceh terbagi menjadi dua, yaitu senjata dan aksesoris. Senjata tradisional berupa peudung dan rencong. Peudung atau pedang digunakan sebagai senjata untuk menyerang-mencincang, sementara rencong lebih digunakan untuk menikam sehingga keduanya biasa digunakan secara bersamaan. Rencog merupakan senjata pusaka bagi rakyat Aceh dan merupakan simbol keberanian, keperkasaan, pertahanan diri, dan kepahlawanan dari abad ke abad. Rencog telah dikenal pada abad ke-13 dan semenjak itu rencong menggambarkan tingkatan strata seseorang, semakin tinggi strata seseorang akan memiliki rencong dengan kualitas bahan yang sangat mahal, selain itu rencong memiliki filosofi keislaman, bagian gagangnya terdapat susuan aksara yang membentuk kalimat Bismillah, sebuah lambing yang menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sangat berpegang teguh pada kemuliaan ajaran Islam. Aksesoris tradisional berupa meukotop. Aksesoris yang digunakan di kepala ini merupakan topi tradisional yang disebut juga sebagai topi Teuku Umar, pahlawan nasional Aceh, karena beliau sering memakai topi ini. Meukotop terbuat dari kain songket dan pernak-pernik lainnya dan umumnya digunakan oleh pengantin pria yang menggunakan pakaian adat (tanohaceh.com).

Tari tradisional Aceh sangatlah banyak, jumlahnya mencapai sekitar duabelas jenis.

  • Tari saman berasal dari dataran tinggi Gayo dan Syekh Saman merupakan pencipta tari ini. Dahulunya tari ini hanya dimainkan oleh kaum laki-laki, akan tetapi berjalannya waktu kaum perempuan dapat ikut memainkan tari ini. Pemimpin gerakan pada tari saman disebut “syekh”. Tari saman telah mendapatkan pengakuan dunia melalui UNESCO pada 24 November 2011.
  • Tari bines awalnya muncul di Aceh Tengah namun kemudian dibawa ke Aceh Timur. Tari ini juga diperkenalkan oleh Syekh Saman dalam rangka berdakwah yang ditarikan oleh para wanita dengan cara duduk berjajar sambal menyanyikan syair yang berisikan dakwah. Hal yang menarik dari tari ini adalah saat ketika para penari diberi uang oleh pemuda dari desa undangan dengan menaruh uang tersebut di atas kepala sang penari.
  • Tari seudati berkembang pertama kali pada saat Agama Islam masuk di Aceh dan diperkenalkan oleh sang penyebar agama yang berasal dari Arab Saudi. Pada zaman kolonial, tari ini sempat dilarang oleh pemerintah Belanda karena tari ini memiliki syair yang selalu membangkitkan semangat pemuda Aceh untuk bangkit dan melawan penjajahan.
  • Tari tarek pukat berasal dari Kabupaten Aceh Besar dan merupakan tarian yang mengisahkan kehidupan nelayan di Aceh, hal tersebut digambarkan dengan digunakannya tali nelayan pada gerakan tarian ini
  • Tari didong diperkenalkan pada zaman Reje Linge XIII sebagai sarana penyebaran agama Islam melalui medida syair. Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam, tetapi juga dalam upacara-upacara adat seperti pernikahan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu, dan lain lain.
  • Tari guel berasal dari masyarakat suku Gayo. Guel memiliki makna menyembunyikan. Tari ini sepenuhnya merupakan apresiasi terhadap wujud alam serta lingkungan sehingga tari ini bukan hanya sekedar tari biasa, begitulah menurut para peneliti dan koreografer tari.
  • Tari masekat pertama kali diperkenalkan oleh Tengku Mbelin (Teungku Haji Hasan) Lawe Due, kemudian dikembangkan oleh muridnya yaitu Tengku Muhammad Nya’kub Pagan. Tari ini menggunakan kombinasi antara gerakan tangan dan badan serta lantunan syair-syair keagamaan.
  • Tari ula ula lembing berasal dari Kabupaten Aceh Tamiang. Tarian ini ditarikan dengan cara berputar-putar ke sekeliling panggung bagai ular. Tarian ini identik dengan nuansa yang ceria dan lincah.
  • Tari rampai geleng diperkenalkan oleh Syeikh Ripai dan menggambarkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tari ini bertujuan untuk menanamkan nilai moral kepada masyarakat dan menjelaskan tetnang bagaimana hidup dalam bermasyarakat. Tari ini memiliki tiga tahapan yaitu salam, kisah, dan penutup.
  • Tari ranup lampuan ditarikan untuk menyambut tamu resmi, menggunakan puan yang berisi sirih untuk disuguhkan kepada tamu. Sirih adalah lambing penghormatan dan persaudaraan terhadap tamu.
  • Tari pho dahulunya dibawakan oleh para wanita dan dilakukan pada kematian orang besar dan raja-raja yang didasarkan atas permohonan kepada Tuhan dan untuk mengeluarkan isi hati yang sedih karena ditimpa kemalangan. Sejak berkembangnya agama Islam, tarian ini tidak lagi ditonjolan pada waktu kematian dan telah menjadi kesenian rakyaat yang sering ditampilkan saat upacara adat.

(tradisikita.my.id).

Nantikan informasi-informasi singkat mengenai kesenian dan keubudayaan pada provinsi yang lainnya ! #kenaliIndonesia

Translate »