Hanami: Fenomena Alamiah yang Membawa Berkah
April 19, 2016
0

April tanggal dua yang ditunggu-tunggu telah tiba. Cuaca hari itu cerah, langit berwarna biru muda dengan sang mentari yang memancarkan secercah sinar dengan udara sejuk yang berhembus, menemani indahnya pohon sakura yang telah mekar. Ya, hanami—kegiatan melihat sekaligus menikmati sakura di musim semi—telah menjadi salah satu acara rutin yang ditunggu-tunggu banyak orang. Tentu saja karenanya Divisi Wisata dan Rekreasi PPI Fukuoka harus segera mengklaim tempat piknik untuk acara ini sejak pagi, terbukti dengan ramainya orang-orang yang berkunjung dan bersantai ria di sekeliling area hanami PPI Fukuoka dan Musfuk.

 

Bertandang ke acara hanami ini membuat saya pribadi terhenyak. Satu tahun setengah menimba ilmu di negeri orang, pulang ke Indonesia sesekali pun belum mengobati rasa rindu terhadap tanah air sendiri. Di saat di mana-mana hanya terdengar Bahasa Jepang di telinga, di tempat inilah rasanya Indonesia menjadi ‘hidup’ walaupun terpisah jarak yang amat jauh. Mulai dari Bapak-bapak, Ibu-ibu dan anak-anak Indonesia yang fasih berbahasa Jepang, sampai dengan remaja-remaja dan dewasa yang masih menimba ilmu di universitas sekitar Fukuoka datang berbondong-bondong hingga saya sendiri yang sudah lama berada di lingkungan PPI Fukuoka merasa kaget dengan wajah-wajah asing yang belum saya temui.

 

Apa relasinya dengan hanami? Ya, tentu saja relasi yang ada bukan hal yang bisa dilihat, melainkan memang ada benang merah yang membuat saya berpikir ke arah yang bisa dibilang lumayan ‘jauh’. Soal membahas arti sakura yang melambangkan kehidupan yang indah tapi singkat, tentunya kawan-kawan sudah banyak mendengar ungkapan tersebut. Sakura yang menjadi tren bagi banyak orang untuk mengunjungi Jepang pada musim ini bukan hanya sekadar pajangan manis atau objek foto, melainkan melalui adanya sakura, kita semua memiliki ‘alasan’ untuk berkumpul.

 

Bagi beberapa orang Indonesia yang satu kampus, mungkin berkumpul tampak biasa, namun mengingat kali ini dihadiri oleh banyak sekali orang Indonesia dari berbagai kampus dan tujuan berada di Fukuoka, menurut saya ini hal yang luar biasa. Sakura yang mekar bukan hanya membawa keindahan namun juga acara untuk bertali Kasih dan mempererat persaudaraan serta nasionalisme yang kian terkikis di kalangan anak muda Indonesia di Jepang. Bergaul dengan teman-teman sebangsa mengobati rasa rindu terhadap rumah. Dilengkapi dengan hidangan berupa mie, daging-daging yang di-BBQ dan minuman segar, semua orang tampak bahagia bisa berbincang dengan santai di bawah rindangnya naungan pohon Sakura. Acara pun dibuka dengan kata sambutan dari Ketua PPI Fukuoka dan speech singkat dari alumni-alumni yang telah meninggalkan nama baik Indonesia dalam risetnya.

 

Bila kita bayangkan fenomena mekarnya Sakura ini tidak ada, mungkin kita tidak akan punya cukup excuse untuk mengadakan acara besar sekalian penyambutan mahasiswa baru di Fukuoka ini. Namun, yang cukup menggelitik pikiran adalah, mengapa harus setiap hanami saja orang-orang datang dengan lebih semangat? Mengapa kita harus menunggu Sakura yang datangnya setahun sekali ini daripada berinisiatif datang ke acara-acara lain yang diselenggarakan PPI Fukuoka?

 

Hari itu, waktu bergulir tanpa terasa, sudah siang menjelang sore dan acara pun ditutup setelah kami berfoto. Indahnya hari itu, ditambah dengan kepuasan untuk bertemu kawan-kawan serta perut yang kenyang terpuaskan oleh daging-daging empuk tentu saja bukan satu-satunya yang kita dapat rasakan. Fenomena alamiah yang telah membawa kita untuk kembali berkumpul bersama-sama dan bercanda tawa ini bukanlah suatu kebetulan. Mungkin inilah sisi lain, berkah yang kita dapatkan melalui fenomena yang tak terhindarkan ini. Mari kita bersama-sama berkontribusi untuk meramaikan acara-acara dan aktif dalam komunitas Indonesia di Fukuoka ini ke depannya. Ya, walaupun kita semua merasa sudah kerasan di negeri orang, masih, di sinilah rumahmu.

 

By : Jessica Marvela

B2, Kyushu University

hanami.jpg

Translate »